Minggu, 14 Desember 2014

purwokerto ibu kota negara republik indonesiaPurwokerto menjadi Ibu Kota Negara Republik Indonesia – Apa yang kalian pikirkan tentang kota ini? Percaya tidak percaya Purwokerto masuk nominasi 5 besar kota yang akan dipilih menjadi ibu kota negara Republik Indonesia selain Kota Palangkaraya, Samarinda, Banjarmasin, Pontianak. Tapi apa benar yach?? coba kita cermati bersama tentang Purwokerto menjadi Ibu Kota Negara Republik Indonesia ini.
Pemerintah Kabupaten Banyumas menyiapkan rencana tata ruang dan tata wilayah sebagai ibu kota negara untuk menggantikan DKI Jakarta. Tim Pendamping Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) Jawa Tengah Syamsul Maarif menyatakan beberapa waktu lalu Pemerintah Kabupaten Banyumas sudah mengajukan rencana tata ruang dan tata wilayah ke Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah Provinsi Jawa Tengah.
Dalam draf peraturan daerah tentang rencana tata ruang dan tata wilayah itu sudah dimunculkan Purwokerto untuk menjadi ibu kota negara Indonesia. “Dalam draf perda rencana tata ruang dan tata wilayah sudah diarahkan Purwokerto menjadi ibu kota negara,” ujar Syamsul kepada Tempo, Ahad (26/12).
Pengajar Planologi Universitas Diponegoro Semarang ini menilai Purwokerto sangat layak untuk menjadi ibu kota negara menggantikan ibu kota saat ini, DKI Jakarta, yang dinilai sudah tak layak. Letak Purwokerto cukup strategis karena berada di tengah Pulau Jawa. Selain itu, memenuhi falsafah kota di Jawa yang membelakangi gunung dan menghadap ke laut di Cilacap. Kota di lereng Gunung Slamet ini dinilai cocok menggantikan Jakarta karena letak geografi yang strategis.
Seperti diberitakan sebelumnya, Pemerintah Banyumas menyatakan Purwokerto masuk nominasi lima besar calon pengganti ibu kota negara. Syamsul menyatakan masuknya Purwokerto dalam nominasi lima besar calon pengganti ibu kota negara bukanlah sesuatu yang tiba-tiba tapi sudah melalui kajian matang. Purwokerto masuk nominasi lima besar menjadi calon ibu kota bersama Palangkaraya, Samarinda, Banjarmasin, dan Pontianak.
Jika selama ini ada yang mengkhawatirkan keberadaan Gunung Slamet bisa mengganggu, maka Syamsul tidak mempermasalahkan. Sebab, keberadaan gunung di Jawa Tengah itu merupakan variabel yang kesekian sehingga tak perlu dikhawatirkan. Selama ini, Purwokerto dinilai paling lengkap. Secara historis, pada zaman Belanda juga sudah menetapkan Purwokerto menjadi daerah kerasidenan yang representatif. Selain itu, Purwokerto juga dekat dengan Yogyakarta yang secara historis dikenal memiliki banyak peninggalan pusat-pusat perdagangan dan kekuasaan.
Selama ini, Purwokerto menjadi kota ketiga terbesar di Jawa Tengah setelah Kota Semarang dan Kota Solo. Syamsul menyarankan jika Purwokerto benar-benar ingin menjadi ibu kota negara maka harus punya daya saing yang dikembangkan. “Tidak hanya pusat kegiatan di wilayah tapi harus bisa memiliki pusat kegiatan tingkat nasional,” ujarnya.
sumber : http://www.tempo.co/read/news/2010/12/26/177301606/Purwokerto-Susun-Rencana-Tata-Ruang-Sebagai-Ibu-Kota-Negara
itu salah satu dari media terbesar indonesia yang memberitakan terkait Purwokerto menjadi Ibu Kota Negara Republik Indonesia. Di forum terbesar di Indonesia yakni Kompasiana.com berikut isinya saya comot lagi ya.. yang penting menyertakan sumbernya. :)
Terkejut, bahagia, kaget, heran, serta tidak menyangka. Perasaan inilah yang saya rasakan ketika melakukan tugas peliputan dalam rapat paripurna persetujuan 5 Raperda yang diselenggarakan di ruang rapat paripurna DPRD Banyumas, Selasa (21 Desember 2010). Di sela-sela sambutan dalam rapat tersebut, Bupati Banyumas Drs. Mardjoko MM, menyampaikan bahwasanya Purwokerto masuk nominasi ke-5 kota-kota di Indonesia (Palangkaraya, Samarinda, Pontianak, Banjarmasin) yang akan menggantikan Jakarta sebagai Ibu Kota RI.
12934959271753786211
Pintu masuk ke Purwokerto dari arah Yogjakarta
Sebagai warga Purwokerto saya hanya mampu berucap, “Wow…..hebat!” Bagaimana tidak? Purwokerto sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi di wilayah Kabupaten Banyumas ini adalah kota kecil, tetapi memiliki potensi baik sebagai kota pendidikan, pariwisata, investasi yang berkembang begitu cepat.
Meskipun perpindahan Ibu Kota RI dari Jakarta masih sebatas wacana, dan Purwokerto sebagai salah satu alternatif Ibu Kota RI nantinya. Tidak ada salahnya kita kutip pendapat Velix Wanggai, Staf Khusus Presiden Bidang Otonomi Daerah dalam diskusi tentang ibukota, di Jakarta, Sabtu 11 Desember 2010 sebagaimana dikutip vivanews.com. Bahwa, Presiden mengusulkan ada tiga pilihan mengenai wacana pemindahan ibukota ini. Pertama, pusat pemerintahan dan perekonomian dipindah. Kedua hanya pemerintahan saja. Ketiga, tidak pindah dengan catatan membangun transportasi publik yang memadai.
 1293496012904262173
Monumen Jenderal Gatot Subroto (photo by Sukmono)Kesiapan Purwokerto untuk mewujudkan sebagai Ibu Kota RI, membutuhkan penataan kawasan yang tepat serta penataan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang terkonsep. Luas wilayah Kabupaten Banyumas yang sekitar 1.327,60 km2 atau setara dengan 132.759,56 ha, dengan keadaan wilayah antara daratan & pegunungan dengan struktur pegunungan terdiri dari sebagian lembah Sungai Serayu untuk tanah pertanian, sebagian dataran tinggi untuk pemukiman & pekarangan, dan sebagian pegunungan untuk perkebunan dan hutan tropis terletak dilereng Gunung Slamet sebelah selatan.
Konsekuensi lebih lanjut, secara ekonomi pertumbuhan pendapatan baik itu PAD atau tingkat pendapatan per kapitanya tentu akan lebih tinggi dari sebelumnya dan hal itu bisa terjadi perluasannya di tiap-tiap kecamatan. Belum lagi masuknya para pendatang berbondong-bondong untuk bertempat tinggal yang berakibat pada naiknya harga tanah.
Akan tetapi, terlepas dari “Angin Surga” yang dihembuskan oleh wacana perpindahan Ibu Kota tersebut. Masih banyak PR yang mesti diperhatikan dari segi kekurangan Purwokerto sebagai Ibu Kota RI. Keberadaan Purwokerto yang terletak di sebelah selatan Gunung Slamet sudah barang tentu akan menyulitkan bagi kegiatan transportasi udara. Secara geografis, kota Purwokerto jauh dari pantai yang memungkinkan untuk pembangunan Pelabuhan. Purwokerto adalah wilayah yang rawan gempa karena termasuk dalam titik yang dilalui geothermal.
Alternatif pemilihan lokasi untuk merealisasikan gagasan pemindahan Ibu Kota RI tersebut merupakan embrio pemikiran yang masih perlu didiskusikan secara mendalam. Tentunya masih banyak alternatif lain untuk pemindahan ibu kota negara, mengingat jumlah pulau di Indonesia lebih dari 17.000. Untuk pemilihan lokasi ibu kota perlu peraturan perundang-undangan. Undang-undang tata ruang saat ini sedang digodog di DPR, mudah-mudahan persyaratan ibu kota negara tidak terlewatkan atau terabaikan.
Disusul kembali oleh mediaindonesia.com, berikut paparannya :
Pengamat politik Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, Prof Rubijanto Misman mengatakan Kota Purwokerto layak
menjadi Ibu Kota Negara Indonesia pengganti Jakarta.
“Jika dilihat dari atmosfer politik, sosiologi, dan ekonominya, Purwokerto (ibu kota Kabupaten Banyumas) memang memenuhi kelayakan untuk menjadi Ibu Kota negara,” kata Rubijanto di Purwokerto, Jumat (31/12). Akan tetapi dari sisi geografis, kata dia, Purwokerto memiliki kelemahan karena sulit untuk dijangkau.
Menurut dia, sebuah ibu kota negara harus dilihat dari kemudahan aksesnya dan yang paling utama sekali adalah keberadaan bandar udara. Dia mengakui, di Kabupaten Cilacap telah terdapat bandar udara yang melayani penerbangan komersial (Bandara Tunggul Wulung).
“Permasalahannya Cilacap dan Banyumas beda kabupaten. Apalagi sekarang ini era otonomi, pasti ada semacam katakanlah kurang bersahabat,” katanya.
Menurut dia, sebuah bakal lokasi ibu kota negara juga harus dilihat dari luas daerahnya tetapi bukan berarti luasnya harus sama dengan kota-kota besar lainnya. Dalam hal ini, dia mencontohkan ibu kota negara Australia, yakni Canberra, yang tidak sebesar Sidney dan Melbourne.
“Tetapi kan akses komunikasi dan transportasi kota itu lebih mudah sehingga ada kemungkinan dapat dikembangkan. Untuk Banyumas, saya melihat dari sisi geografisnya tidak memungkinkan, dalam arti untuk menjangkau daerah ini,” katanya.
Bupati Banyumas Mardjoko mengaku pernah ditanya seorang pejabat di pusat mengenai kesiapan Purwokerto untuk dijadikan Ibu Kota. Menurut dia, masuknya Purwokerto sebagai salah satu nominator pengganti Jakarta karena dipandang dari sisi geografis terletak di tengah
Pulau Jawa.
Bahkan, kata dia, Purwokerto menjadi nominator kelima dari 10 alternatif kota lain, seperti Palangkaraya, Samarinda, Pontianak, dan Banjarmasin.
tak ketinggalan pula republika.co.id pun menggelontarkannya pula ke media, langsung simak aja yakkk.. :)
Pengamat politik Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Prof Rubijanto Misman mengatakan Kota Purwokerto layak menjadi Ibu Kota Negara Indonesia pengganti Jakarta.
“Jika dilihat dari atmosfer politik, sosiologi, dan ekonominya, Purwokerto  memang memenuhi kelayakan untuk menjadi ibu kota negara,” kata Rubijanto, di Purwokerto, Jumat.
Akan tetapi dari sisi geografis atau kemudahan untuk menjangkau, kata dia, Purwokerto memiliki kelemahan karena sulit untuk dijangkau.
Menurut dia, sebuah ibu kota negara harus dilihat dari kemudahan-kemudahan aksesnya dan yang paling utama sekali adalah keberadaan bandar udara.
Dia mengakui, di Kabupaten Cilacap telah terdapat bandar udara yang melayani penerbangan komersial (Bandara Tunggul Wulung, red). “Permasalahannya Cilacap dan Banyumas beda kabupaten. Apalagi sekarang ini era otonomi, pasti ada semacam katakanlah kurang bersahabat,” katanya.
Menurut dia, sebuah bakal lokasi ibu kota negara juga harus dilihat dari luas daerahnya tetapi bukan berarti luasnya harus sama dengan kota-kota besar lainnya. Dalam hal ini, dia mencontohkan ibu kota negara Australia, yakni Canberra yang tidak sebesar Sidney dan Melbourne.
“Tetapi kan kota itu akses komunikasi dan transportasinya lebih mudah sehingga ada kemungkinan dapat dikembangkan. Sedangkan untuk Banyumas sendiri, saya melihat dari sisi geografisnya tidak memungkinkan, dalam arti untuk menjangkau daerah ini,” katanya.
Terkait munculnya nama sejumlah daerah yang diusulkan menjadi ibu kota negara, dia mengatakan, calon ibu kota negara yang ideal adalah wilayah tersebut dapat dikembangkan tanpa mengganggu komunitas masyarakat yang ada. Menurut dia, Palangkaraya merupakan kota yang paling ideal sebagai calon ibu kota negara karena dapat dikembangkan untuk kurun waktu 50 hingga 100 tahun ke depan.
Nama Purwokerto sebagai salah satu calon Ibu Kota Negara Indonesia mulai banyak dibicarakan masyarakat Banyumas sejak adanya pemberitaan di sebuah surat kabar harian lokal. Dalam pemberitaan tersebut, Bupati Banyumas Mardjoko mengaku jika pernah ditanya seorang pejabat di pusat mengenai kesiapan jika memang Purwokerto benar nantinya akan dijadikan ibu kota.
Menurut dia, masuknya Purwokerto sebagai salah satu nominator pengganti Jakarta karena dipandang dari sisi geografis terletak di tengah Pulau Jawa. Bahkan, kata dia, Purwokerto menjadi nominator kelima dari 10 alternatif kota lain, seperti Palangkaraya, Samarinda, Pontianak, dan Banjarmasin.
Ini yang terbaru dari media yang tertanggal 21 januari 2013 (tertanggal update blog ini)
Wacana pemindahan Ibu Kota kembali ramai diperbincangkan setelah Jakarta memasuki tanggap darurat banjir. Ternyata wacana ini sendiri sudah digodok selama beberapa tahun ini oleh pemerintah.
Sejak dilontarkan pada 2 Desember 2009 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah meminta kajian tentang wacana ini.
“Menyikapi pernyataan Presiden, diskusi-diskusi dan kajian telah dilakukan beberapa Kementerian,” kata Velix Wanggai, Staf Khusus Presiden bidang Pembangunan Daerah, Sabtu (19/1).
Diberitakan Tempo.co, Velix menjelaskan perihal diskusi wacana perpindahan ibu kota dilontarkan sejak 2 Desember 2009 lalu di Palangkaraya pada acara pembukaan Rapat kerja Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI).
Kemudian ditegaskan kembali beberapa kali pada Buka Bersama dengan pimpinan media massa pada 9 Agustus 2010, dan di acara Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) pada awal September 2010.
Sejak saat itu, ujar Velix, sudah banyak kajian intensif dan diskusi kebijakan strategis dengan wakil-wakil dari Kementeri Pekerjaan Umum, Kementerian Perhubungan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Lingkungan Hidup untuk menggodok kemungkinan pemindahan ibu kota.
“Juga berdialog dengan tim visi 2033 yang diketuai oleh Andrinof Chaniago dan sejumlah pengamat pembangunan perkotaan dan wilayah,” kata Velix.
Sementara itu, Tim Pendamping Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) Jawa Tengah Syamsul Maarif menyatakan Pemerintah Kabupaten Banyumas sudah mengajukan rencana tata ruang dan tata wilayah ke Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah Provinsi Jawa Tengah.
Dalam draf peraturan daerah tentang rencana tata ruang dan tata wilayah itu sudah dimunculkan Purwokerto untuk menjadi ibu kota negara Indonesia. “Dalam draf perda rencana tata ruang dan tata wilayah sudah diarahkan Purwokerto menjadi ibu kota negara,” ujar Syamsul seperti dikutip Tempo.co, (26/12) tahun 2010 silam.
Pengajar Planologi Universitas Diponegoro Semarang menilai Purwokerto sangat layak untuk menjadi ibu kota negara menggantikan ibu kota saat ini, DKI Jakarta, yang dinilai sudah tak layak.
Letak Purwokerto cukup strategis karena berada di tengah Pulau Jawa. Selain itu, memenuhi falsafah kota di Jawa yang membelakangi gunung dan menghadap ke laut di Cilacap. Kota di lereng Gunung Slamet ini dinilai cocok menggantikan Jakarta karena letak geografi yang strategis.
Syamsul menyatakan, masuknya Purwokerto dalam nominasi lima besar calon pengganti ibu kota negara bukanlah sesuatu yang tiba-tiba tapi sudah melalui kajian matang. Purwokerto masuk nominasi lima besar menjadi calon ibu kota bersama Palangkaraya, Samarinda, Banjarmasin, dan Pontianak.
Jika selama ini ada yang mengkhawatirkan keberadaan Gunung Slamet bisa mengganggu, maka Syamsul tidak mempermasalahkan. Sebab, keberadaan gunung di Jawa Tengah itu merupakan variabel yang kesekian sehingga tak perlu dikhawatirkan. Selama ini, Purwokerto dinilai paling lengkap.
Secara historis, pada zaman Belanda juga sudah menetapkan Purwokerto menjadi daerah kerasidenan yang representatif. Selain itu, Purwokerto juga dekat dengan Yogyakarta yang secara historis dikenal memiliki banyak peninggalan pusat-pusat perdagangan dan kekuasaan.
Selama ini, Purwokerto menjadi kota ketiga terbesar di Jawa Tengah setelah Kota Semarang dan Kota Solo. Syamsul menyarankan jika Purwokerto benar-benar ingin menjadi ibu kota negara maka harus punya daya saing yang dikembangkan.
“Tidak hanya pusat kegiatan di wilayah tapi harus bisa memiliki pusat kegiatan tingkat nasional,” ujarnya.
Nah menurut teman-teman sendiri apa pendapatnya terkait Purwokerto sebagai Ibu Kota Negara Republik Indonesia ini?? khususnya Warga Cilacap yang mempunyai Bandara Tunggul Wulung Cilacap Serta Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap.
pelabuhan tanjung intan cilacapbandara tunggul wulung cilacap
Notes : #PrayForGunungSlamet
sedikit video2 tentang Gunung Slamet sebagai pengingat kita, agar kita lebih mencintai bumi pertiwi dengan hal hal yang lebih positif lagi. aaamiin