Gadis Belanda di Purwokerto (1923-1925)

Awal-awal abad XX. Pada suatu kota. Saat itu, babak baru dalam tata
ruang tengah memasuki kota tersebut. Setiap jalan terlihat lebar.
Pepohonan hijau nan rindang meneduhi para pejalan kaki ketika melintas
di area pedestrian. Jalan-jalan terlihat asri. Sulit untuk membedakan
antara jalan utama dengan jalan penghubung. Di depan gedung karesidenan,
terdapat sebuah taman kota. Taman Merdeka, nama taman itu. Sebuah taman
untuk tempat warga kota melepas penat setelah kesibukan. Kota terasa
nyaman bagi warganya. Inilah suasana Kota Purwokerto dengan perencanaan
tata ruang yang baru. Suatu masa ketika Pulau Jawa mulai berkembang.
Saat itu, kota-kota di
Pulau Jawa
tengah mengalami lonjakan penduduk. Kota-kota meledak. Hampir di setiap
kota, pertambahan penduduk sekitar 10 kali sampai 20 kali lipat.
Kota-kota, mengalami masalah akut tentang tata ruang. Pemerintah
kolonial Belanda kelimpungan menghadapi persoalan itu. Sibuk mencari
model pembangunan bagi kota-kota di Jawa.
Saat kesibukan meliputi Pemerintah Kolonial Belanda, Herman Thomas
Kartsen menjejakkan kaki di Semarang pada 1914. Kota yang juga tengah
mengalami persoalan pertambahan penduduk. Dalam catatan
W.F. Wertheim
melalui buku Masyarakat Indonesia dalam Transisi, pertambahan penduduk
di kota itu hampir mencapai seratus persen. Di kota tersebut, Kartsen
menemui Henri Maclaine Pont. Pont adalah teman Kartsen semasa kuliah di
Insitut Teknologi Delf,
Amsterdam,
Belanda.
Di Semarang, Pont mendirikan biro arsistek. Melalui Pont, Kartsen
mendapat banyak informasi tentang keadaan Semarang dan kota lainnya.
Kedatangan Kartsen di Semarang adalah guna merancang Kota Semarang dan
kota-kota di Pulau Jawa.terdapat pabrik gula
kalibagor.
[4]
Sejarah Purwokerto