Minggu, 26 Oktober 2014

Gubug Makan Mang Engking Purwokerto

Gubug Makan Mang Engking Purwokerto, kelezatan di tengah keasrian alam


Mang Engking Purwokerto - foto puh BNC
Mang Engking Purwokerto – foto puh BNC
Satu lagi tempat kuliner berkelas hadir di Purwokerto. Gubug Makan Mang Engking yang berlokasi di Jalan HR Bunyamin Purwokerto, Kabupaten Banyumas, di utara kampus Unsoed, masuk gang sebelah utara Pabuaran Mart. Gubug Makan Meng Engking Purwokerto sudah dibuka sejak 11 Desember 2011 lalu, dengan menu dan suasana yang mengikuti ‘style’ Mang Engking yang sudah buka di berbagai kota. Mang Engking menawarkan kelezatan menu masakan di tengah keasrian alam pedesaan yang khas.
Menu andalan rumah makan dengan suasana alam pedesaan ini adalah udang yang dimasak dengan bumbu variatif. Yang menjadi favorit adaah ‘udang bakar madu’, dengan varian udang yang dimasak adalah udang galah. Olesan madu dalam menu ini menggantikan olesan kecap manis, setelah udang galah dibakar. So, rasanya jadi manis bercampur daging udang yang gurih. Senasi rasa ini dijamin menggoyang lidah Anda. Ckkk… air liur jadi ingin segera merasakan nikmat udang madu ini.
Tentunya ada banyak lagi variasi menu masakan udang. Selain udang bakar madu, ada udang saus padang, saus tiram, asam manis, udang digoreng biasa, udang goreng tepung dan udang rebus. Bagi yang kurang suka dengan udang tersedia pula menu ikan gurame, seperti gurame bumbu cobek dari rempah-rempah, sop gurame, asam manis, saus tiram, bakar kecap, bakar madu dan saus padang. Juga ada menu kepiting dan cumi-cumi dengan berbagai variasi tergantung rasa yang Anda inginkan.
menu Mang Engking hmmm
Bagi penyuka pedas, di rumah makan yang buka setiap hari ini juga disajikan sambal terasi dadakan, tomat, cobek, bawang dan kecap.
Setting tempat yang berada di pinggir sawah dengan angin semilir merambah pori-pori kulit, dipadu pemandangan pepohonan kelapa dengan nyiur yang melambai-lambai, dan gemercik air terkoyak gerakan-gerakan ikan yang ada di kolam menjadikan suasana di rumah makan Mang Enking berbeda dengan tempat makan lainnya. Ada gazebo-gazebo yang bisa Anda pilih untuk lesehan, atau bagi Anda yang tidak suka lesehan, bisa mengambil gazebo yang menggunakan meja/kursi. Beberapa tempat makan berada di atas kolam, sehingga sambil menunggu menu pesanan datang, Anda dapat bercengkerama dengan ikan-ikan dan memberinya makan ikan-ikan di situ.
Untuk tamu rombongan disediakan tempat makan di hall utama tepat setelah pintu masuk Gubung Makan Mang Engking.
andd bisa makan di sini
Ketika BNC menyambangi gubug makan ini, tampak terlihat rombongan baik rombongan keluarga maupun rombongan karyawan dari berbagai intstansi. Atik, salah seorang pengunjung yang datang bersama rekan-rakannya dari salah satu bank swasta mengatakan Gubung Mang Engking menjadi alternative makan siang bersama yang bisa menghilangkan kepenatan. “Setalah acara meeting di kantor yang melelahkan, makan di tempat yang asri dan segar ini bisa menghilangkan kepenatan”, katanya.
Tentang Mang Engking
Awal berdirinya Gubug Makan Mang Engking boleh dibilang adalah ‘berkah bom Bali’. Lho? Ceritanya Mang Engking Sodikin sang pemilik rumah makan asal Tasikmalaya menambak udang sejak tahun 1990-an di Jogja, yaitu di Minggir, Sleman. Hasil tambak udang dikirim ke restoran-restoran di Bali.
Nah pada tahun 2002 terjadi bom Bali dan berdampak pada terhambatnya pengiriman hasil tambak udang Mang Engking. Daripada tidak ada pembuangan udang, Mang Engking berfikir lebih baik membangun restoran dan dijual sendiri. Maka berdirilah Gubug Makan Mang Engking pertama kali pada tahun 2004 berlokasi di desa Jamur, Sendangrejo, Minggir, Sleman. Rumah makan ini agak jauh dari pusat kota Jogja dan berada di tengah areal persawahan. Kemudian berdiri pada tahun 2006 di Sorogan Castle, Jalan Sorogan Bantul.
Karena peminatnya banyak, Mang Engking lantas menambahkan menu lain selain menu udang. Kini Mang Engking sudah berdiri di berbagai kota seperti Depok, Bandung, Pasuruan, dan di kota Anda : Purwokerto. (BNC/puh/jakartabisnis.com)

Kuliner Purwokerto

Makanan khas dari kota ini adalah
Mendoan khas Purwokerto
  • Mendhoan, makanan yang terbuat dari tempe yang tipis/diiris tipis kemudian digoreng dengan tepung yang diberi bumbu dan digoreng setengah matang.
  • Kripik Tempe, prosesnya seperti mendhoan tetapi digoreng sampai kering. Kota Kripik merupakan salah satu julukan dari kota Purwokerto.
  • Sroto, daerah lain menyebutnya Soto.
  • Gethuk Goreng, sentra pembuatannya adalah Kec.Sokaraja, sebuah kota kecamatan di pinggir kota Purwokerto.
  • Keong Kuah Pedas, dengan bahan utama keong sawah yang dimasak berkuah dengan bumbu-bumbu kuat yang memberi nuansa pedas dan segar hingga ke tenggorokan. Biasa disebut juga dengan "kraca".
  • Dage, kudapan mirip kue yang berbahan dasar ampas kacang yang digumpalkan dan dijamurkan. Biasa disajikan berupa goreng tepung berbumbu dan disantap dengan cabe rawit atau "lombok cengis".
  • Semayi, lauk dari ampas kelapa yang dibumbui dan dipanggang di atas api kecil. Makanan yang menjadi simbol hidup melarat ini kini sudah amat-sangat susah ditemukan.
  • Tegean, adalah sebutan khas Banyumas untuk sup sayur berkuah bening yang tampak sangat sederhana namun sangat menyegarkan. Sayur-mayur berupa bayam, kecambah kedelai hitam, daun katuk, dan kedelai hitam butiran lazim menjadi unsur utama masakan ini. Untuk bumbunya, selain bahan-bahan yang lazim seperti bawang merah dan bawang putih, tegean juga bercirikan dengan "geprekan" kencur yang sangat menyegarkan.
  • Empal basah, berupa masakan berbahan dasar daging dan tetelan sapi yang dimasak dengan kuah santan yang kental. Kekhasan empal basah Banyumasan adalah adanya sensasi gatal dan geli yang ditimbulkan oleh campuran srundeng di dalam kuah kental tersebut. Empal basah sangat cocok dimakan dengan ketupat berkulit janur (jangan ketupat berkulit plastik).
  • Themlek, kudapan ringan dari ampas tahu berbumbu yang digoreng dengan adonan tepung. Makanan yang akan meninggalkan rasa seret di tenggorokan ini sudah semakin jarang ditemui.
  • Nopia.
  • Beberapa jenis makanan tradisional yang dikenal yakni: ranjem, mi thayel, timus, klanthing, sempora (awug-awug), utri, puli (ciwel), ongol-ongol, gebral, kluban, grontol, mireng, kamir, moho, golang-galing, lopis, ondol-ondol, widaran, angleng klapa, angleng kacang, rujak mentah, rujak mateng, ampyang, grebi, dampleng (mirip combro). soto

Perguruan Tinggi Purwokerto

UNSUD
Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto (UNSOED) Salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia yang berada di kota Purwokerto
Sebuah kewajaran jika Purwokerto menyandang predikat sebagai kota Pelajar karena memang Purwokerto merupakan kota yang sangat strategis untuk menimba ilmu selain letak geografisnya yang mudah dijangkau dari berbagai kota khususnya di pulau jawa, biaya hidup relatif lebih murah jika dibandingkan dengan biaya hidup di kota-kota besar lainnya di Indonesia, selain itu juga Purwokerto memang kondusif tergolong untuk belajar jadi tidak heran kalau setiap tahunnya dibanjiri Mahasiswa-mahasiswa pendatang yang datang dari seluruh pelosok Nusantara. Adapun perguraun tinggi di baik negeri maupun swasta diantaranya:
Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Sekolah Tinggi Teknologi Telematika Telkom, Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Negeri (STAIN), Sekolah Tinggi Teknik Wiworotomo Purwokerto, Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Jawa Tengah, Universitas Terbuka Tutorial Purwokerto (UTTP), Politeknik Ma'arif Purwokerto, Politeknik Kesehatan DEPKES Semarang - Kampus Purwokerto, Universitas Wijayakusuma (Unwiku), STIMIK AMIKOM Purwokerto, Sekolah Tinggi Ilu Kesehatan Bina Cipta Husada, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Harapan Bangsa, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Satria, Politeknik Pratama, Akademi Manajemen Rumah Sakit Kusuma Husada, Akademi Kebidanan YLPP Karang Klesem, Akademi Pariwisata Eka Sakti, Akademi Keperawatan Yakpermas, AMIK Bina Sarana Informatika Purwokerto, Akademi Farmasi Kusuma Husada,Politeknik Ma'arif NU Purwokerto Akademi Kebidanan Perwira Husada.

Pariwisata Purwokerto

Baturaden
Owabong
Curug Cipendok
Pancuran 7
Purwokerto memiliki beberapa tempat wisata alam andalan yang berskala nasional, berupa gua, air terjun dan wana wisata. Wisata alam di Purwokerto antara lain : Baturaden, Pancuran Pitu, Pancuran Telu, Gua SaraBadak, Museum BRI, Curug Gede, Curug Ceheng, Curug Belot, Curug Cipendok, Masjid Saka Tunggal, Bumi Perkemahan Baturraden, Bumi Perkemahan Kendalisada, Telaga Sunyi, Mata Air Panas Kalibacin, Bendung Gerak Serayu, Wahana Wisata Lembah Combong, Combong Valley Paint Ball and War Games, Serayu River Voyage, Baturraden Adventure Forest[5]

Bahasa dan Budaya Purwokerto

Musik Kenthongan dalam variasi Aksinya
Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa dengan dialek Banyumasan atau lebih familiar dengan istilah Ngapak. Bahasa ini merupakan bahasa kebanggaan yang patut untuk dilestarikan dan dihargai. Dialek dan budaya masyarakatnya memperkaya keanekaragaman Indonesia. Wikipedia juga turut melestarikan bahasa banyumasan ini dengan menerbitkan Wikipedia bahasa Banyumasan. Kenthongan atau musik thek-thek adalah seni musik yang dimainkan dengan alat musik bambu yang dimainkan oleh 20-40 orang. Kebudayaan Begalan dan Ronggeng adalah kesenian asli Banyumas yang sekarang sudah mulai pudar keberadaaannya.

Ekonomi Purwokerto


Salah satu jalan utama di Purwokerto.
Salah satu pertokoan di kota Purwokerto.
Secara tradisional, Purwokerto bukan merupakan kota industri maupun perdagangan. Sampai saat ini, aktivitas industri amat jarang ditemukan di Purwokerto, padahal Purwokerto merupakan daerah potensial yang sangat strategis untuk melakukan investasi dalam bidang Industri selain dari lahan yang masih luas, akses menuju kota-kota besar lainnya yang mudah, juga tenaga kerja profesional di Purwokerto masih banyak. Kota ini bisa dikatakan tidak memiliki industri dalam skala besar yang dapat menyerap ribuan tenaga kerja atau mencakup wilayah puluhan hektare. Jika pun ada industri, itu umumnya industri-industri tradisional yang hanya mempekerjakan puluhan pekerja (seperti industri rokok rumahan, industri mie atau soun kering kecil-kecilan, pabrik pengolah susu skala kecil, industri peralatan dari logam yang tidak seberapa, serta industri makanan oleh-oleh yang hanya ramai pada musim Lebaran). Sektor perdagangan pun setali tiga uang. Di kota ini tidak ditemukan aktivitas perdagangan dalam skala besar. Kota ini tidak memiliki pelabuhan atau fasilitas bongkar-muat barang dalam skala yang secara ekonomi signifikan. Juga tidak terdapat areal pergudangan yang dapat menyimpan komoditas dalam jumlah ribuan kubik. Pendek kata, kota ini sama sekali bukan kota industri dan perdagangan.
Sampai dengan awal dekade 2000-an, kota ini lebih cocok disebut sebagai kota pegawai dan anak sekolah. Mata pencaharian penduduk yang bisa diandalkan untuk hidup cukup adalah dengan menjadi pegawai negeri maupun BUMN. Akhirnya, kota ini secara ekonomi saat itu tidak terlalu berkembang.
Perubahan secara cukup signifikan terjadi mulai tahun-tahun 2000-an, yakni saat kota ini mulai dibanjiri mahasiswa-mahasiswa dari berbagai kota di pulau Jawa untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi di sini (terutama di Universitas Jenderal Soedirman dan di Universitas Muhammadiyah Purwokerto UMP). Sejak saat itu, aktivitas ekonomi rakyat yang berkenaan dengan kebutuhan mahasiswa pun menggeliat. Ribuan kamar kos dibangun untuk disewakan kepada para mahasiswa pendatang. Ratusan tempat makan didirikan untuk melayani kebutuhan lambung para mahasasiswa yang menjalani siklus lapar setiap 6 jam. Kios-kios alat tulis bermunculan. Warnet tumbuh bagai cendawan di musim semi. Bahkan, jasa pencucian baju (laundry) pun bermunculan guna memenuhi kebutuhan pembersihan pakaian para mahasiswa yang memiliki sedikit waktu untuk mencuci sendiri. Kondisi ini membuat perekonomian kota Purwokerto tumbuh cukup signifikan sebagai kota jasa.
Di Akhir tahun 2011, telah berdiri Hotel bintang 5 Aston dengan 12 Lantai. Pada pertengahan tahun 2012, telah tampak perubahan yang cukup signifikan dalam bidang perdagangan. Bisa dilihat dari dibangunnya Rita Supermall dengan 16 lantai dan 2 basement tepat di selatan alun-alun Purwokerto. Dan juga pemekaran Moro menjadi Mega Mall dengan tiga tower.

Sejarah Purwokerto

Gadis Belanda di Purwokerto (1923-1925)
Awal-awal abad XX. Pada suatu kota. Saat itu, babak baru dalam tata ruang tengah memasuki kota tersebut. Setiap jalan terlihat lebar. Pepohonan hijau nan rindang meneduhi para pejalan kaki ketika melintas di area pedestrian. Jalan-jalan terlihat asri. Sulit untuk membedakan antara jalan utama dengan jalan penghubung. Di depan gedung karesidenan, terdapat sebuah taman kota. Taman Merdeka, nama taman itu. Sebuah taman untuk tempat warga kota melepas penat setelah kesibukan. Kota terasa nyaman bagi warganya. Inilah suasana Kota Purwokerto dengan perencanaan tata ruang yang baru. Suatu masa ketika Pulau Jawa mulai berkembang. Saat itu, kota-kota di Pulau Jawa tengah mengalami lonjakan penduduk. Kota-kota meledak. Hampir di setiap kota, pertambahan penduduk sekitar 10 kali sampai 20 kali lipat. Kota-kota, mengalami masalah akut tentang tata ruang. Pemerintah kolonial Belanda kelimpungan menghadapi persoalan itu. Sibuk mencari model pembangunan bagi kota-kota di Jawa.
Saat kesibukan meliputi Pemerintah Kolonial Belanda, Herman Thomas Kartsen menjejakkan kaki di Semarang pada 1914. Kota yang juga tengah mengalami persoalan pertambahan penduduk. Dalam catatan W.F. Wertheim melalui buku Masyarakat Indonesia dalam Transisi, pertambahan penduduk di kota itu hampir mencapai seratus persen. Di kota tersebut, Kartsen menemui Henri Maclaine Pont. Pont adalah teman Kartsen semasa kuliah di Insitut Teknologi Delf, Amsterdam, Belanda. Di Semarang, Pont mendirikan biro arsistek. Melalui Pont, Kartsen mendapat banyak informasi tentang keadaan Semarang dan kota lainnya. Kedatangan Kartsen di Semarang adalah guna merancang Kota Semarang dan kota-kota di Pulau Jawa.terdapat pabrik gula kalibagor.[4]

Kota Purwokerto

Lokawisata Baturaden, ikon pariwisata Purwokerto
Kota Purwokerto adalah ibu kota Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia. Jumlah penduduknya 249.705 jiwa pada tahun 2005. [1]. Berbagai julukan di sandang kota di jalur selatan Jawa Tengah ini dari Kota Wisata, Kota Kripik, Kota Transit, Kota Pendidikan sampai kota Pensiunan karena begitu banyaknya pejabat-pejabat negara yang pensiun dan akhirnya menetap di kota ini. Di kota ini pula terdapat museum Bank Rakyat Indonesia, karena bank pertama kali berdiri ada disini dan pendiri bank ini adalah Raden Bei Aria Wirjaatmadja putra daerah Purwokerto.

Pemerintahan


Kota Purwokerto
Jalan Jenderal Sudirman, Purwokerto
Purwokerto adalah sebuah kota yang tak otonom karena masih menjadi bagian Kabupaten Banyumas sebagai pusat pemerintahan. Secara administratif, Purwokerto terbagi menjadi 4 kecamatan dengan 27 kelurahan. Sebenarnya ada wacana pembentukan Kota Purwokerto terlepas dari Kabupaten Banyumas terus bergulir. Kalau dilihat dari sejarahnya, Purwokerto asalnya berstatus Kota Administratif (Kotif), di mana Kotif lainnya di Indonesia sudah menyandang status Kota dengan otonomi tersendiri. Kalau Purwokerto berhasil menjadi Kota, minimal ada 4 Kecamatan yang tergabung[2], seperti yang terlihat di tabel berikut ini;
Kecamatan di Kota Purwokerto'[3]
Nama Kecamatan Ibu kota Kecamatan Jumlah Kelurahan Penduduk Tahun 2010
Purwokerto Barat Rejasari 7 49.044
Purwokerto Timur Purwokerto Wetan 6 57.160
Purwokerto Utara Bancarkembar 7 57.178
Purwokerto Selatan Karangklesem 7 70.459

Geografi

Purwokerto terletak di selatan Gunung Slamet, salah satu gunung berapi yang masih aktif di pulau Jawa, secara geografi Purwokerto terletak di koordinat 7°26′LU 109°14′BT. Selain menjadi pusat pemerintahan karena menjadi pusat koordinasi daerah Jawa Tengah bagian Barat Bakorlin III. berbatasan sokaraja terdapat Kali Pelus.