Minggu, 14 Desember 2014

purwokerto ibu kota negara republik indonesiaPurwokerto menjadi Ibu Kota Negara Republik Indonesia – Apa yang kalian pikirkan tentang kota ini? Percaya tidak percaya Purwokerto masuk nominasi 5 besar kota yang akan dipilih menjadi ibu kota negara Republik Indonesia selain Kota Palangkaraya, Samarinda, Banjarmasin, Pontianak. Tapi apa benar yach?? coba kita cermati bersama tentang Purwokerto menjadi Ibu Kota Negara Republik Indonesia ini.
Pemerintah Kabupaten Banyumas menyiapkan rencana tata ruang dan tata wilayah sebagai ibu kota negara untuk menggantikan DKI Jakarta. Tim Pendamping Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) Jawa Tengah Syamsul Maarif menyatakan beberapa waktu lalu Pemerintah Kabupaten Banyumas sudah mengajukan rencana tata ruang dan tata wilayah ke Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah Provinsi Jawa Tengah.
Dalam draf peraturan daerah tentang rencana tata ruang dan tata wilayah itu sudah dimunculkan Purwokerto untuk menjadi ibu kota negara Indonesia. “Dalam draf perda rencana tata ruang dan tata wilayah sudah diarahkan Purwokerto menjadi ibu kota negara,” ujar Syamsul kepada Tempo, Ahad (26/12).
Pengajar Planologi Universitas Diponegoro Semarang ini menilai Purwokerto sangat layak untuk menjadi ibu kota negara menggantikan ibu kota saat ini, DKI Jakarta, yang dinilai sudah tak layak. Letak Purwokerto cukup strategis karena berada di tengah Pulau Jawa. Selain itu, memenuhi falsafah kota di Jawa yang membelakangi gunung dan menghadap ke laut di Cilacap. Kota di lereng Gunung Slamet ini dinilai cocok menggantikan Jakarta karena letak geografi yang strategis.
Seperti diberitakan sebelumnya, Pemerintah Banyumas menyatakan Purwokerto masuk nominasi lima besar calon pengganti ibu kota negara. Syamsul menyatakan masuknya Purwokerto dalam nominasi lima besar calon pengganti ibu kota negara bukanlah sesuatu yang tiba-tiba tapi sudah melalui kajian matang. Purwokerto masuk nominasi lima besar menjadi calon ibu kota bersama Palangkaraya, Samarinda, Banjarmasin, dan Pontianak.
Jika selama ini ada yang mengkhawatirkan keberadaan Gunung Slamet bisa mengganggu, maka Syamsul tidak mempermasalahkan. Sebab, keberadaan gunung di Jawa Tengah itu merupakan variabel yang kesekian sehingga tak perlu dikhawatirkan. Selama ini, Purwokerto dinilai paling lengkap. Secara historis, pada zaman Belanda juga sudah menetapkan Purwokerto menjadi daerah kerasidenan yang representatif. Selain itu, Purwokerto juga dekat dengan Yogyakarta yang secara historis dikenal memiliki banyak peninggalan pusat-pusat perdagangan dan kekuasaan.
Selama ini, Purwokerto menjadi kota ketiga terbesar di Jawa Tengah setelah Kota Semarang dan Kota Solo. Syamsul menyarankan jika Purwokerto benar-benar ingin menjadi ibu kota negara maka harus punya daya saing yang dikembangkan. “Tidak hanya pusat kegiatan di wilayah tapi harus bisa memiliki pusat kegiatan tingkat nasional,” ujarnya.
sumber : http://www.tempo.co/read/news/2010/12/26/177301606/Purwokerto-Susun-Rencana-Tata-Ruang-Sebagai-Ibu-Kota-Negara
itu salah satu dari media terbesar indonesia yang memberitakan terkait Purwokerto menjadi Ibu Kota Negara Republik Indonesia. Di forum terbesar di Indonesia yakni Kompasiana.com berikut isinya saya comot lagi ya.. yang penting menyertakan sumbernya. :)
Terkejut, bahagia, kaget, heran, serta tidak menyangka. Perasaan inilah yang saya rasakan ketika melakukan tugas peliputan dalam rapat paripurna persetujuan 5 Raperda yang diselenggarakan di ruang rapat paripurna DPRD Banyumas, Selasa (21 Desember 2010). Di sela-sela sambutan dalam rapat tersebut, Bupati Banyumas Drs. Mardjoko MM, menyampaikan bahwasanya Purwokerto masuk nominasi ke-5 kota-kota di Indonesia (Palangkaraya, Samarinda, Pontianak, Banjarmasin) yang akan menggantikan Jakarta sebagai Ibu Kota RI.
12934959271753786211
Pintu masuk ke Purwokerto dari arah Yogjakarta
Sebagai warga Purwokerto saya hanya mampu berucap, “Wow…..hebat!” Bagaimana tidak? Purwokerto sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi di wilayah Kabupaten Banyumas ini adalah kota kecil, tetapi memiliki potensi baik sebagai kota pendidikan, pariwisata, investasi yang berkembang begitu cepat.
Meskipun perpindahan Ibu Kota RI dari Jakarta masih sebatas wacana, dan Purwokerto sebagai salah satu alternatif Ibu Kota RI nantinya. Tidak ada salahnya kita kutip pendapat Velix Wanggai, Staf Khusus Presiden Bidang Otonomi Daerah dalam diskusi tentang ibukota, di Jakarta, Sabtu 11 Desember 2010 sebagaimana dikutip vivanews.com. Bahwa, Presiden mengusulkan ada tiga pilihan mengenai wacana pemindahan ibukota ini. Pertama, pusat pemerintahan dan perekonomian dipindah. Kedua hanya pemerintahan saja. Ketiga, tidak pindah dengan catatan membangun transportasi publik yang memadai.
 1293496012904262173
Monumen Jenderal Gatot Subroto (photo by Sukmono)Kesiapan Purwokerto untuk mewujudkan sebagai Ibu Kota RI, membutuhkan penataan kawasan yang tepat serta penataan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang terkonsep. Luas wilayah Kabupaten Banyumas yang sekitar 1.327,60 km2 atau setara dengan 132.759,56 ha, dengan keadaan wilayah antara daratan & pegunungan dengan struktur pegunungan terdiri dari sebagian lembah Sungai Serayu untuk tanah pertanian, sebagian dataran tinggi untuk pemukiman & pekarangan, dan sebagian pegunungan untuk perkebunan dan hutan tropis terletak dilereng Gunung Slamet sebelah selatan.
Konsekuensi lebih lanjut, secara ekonomi pertumbuhan pendapatan baik itu PAD atau tingkat pendapatan per kapitanya tentu akan lebih tinggi dari sebelumnya dan hal itu bisa terjadi perluasannya di tiap-tiap kecamatan. Belum lagi masuknya para pendatang berbondong-bondong untuk bertempat tinggal yang berakibat pada naiknya harga tanah.
Akan tetapi, terlepas dari “Angin Surga” yang dihembuskan oleh wacana perpindahan Ibu Kota tersebut. Masih banyak PR yang mesti diperhatikan dari segi kekurangan Purwokerto sebagai Ibu Kota RI. Keberadaan Purwokerto yang terletak di sebelah selatan Gunung Slamet sudah barang tentu akan menyulitkan bagi kegiatan transportasi udara. Secara geografis, kota Purwokerto jauh dari pantai yang memungkinkan untuk pembangunan Pelabuhan. Purwokerto adalah wilayah yang rawan gempa karena termasuk dalam titik yang dilalui geothermal.
Alternatif pemilihan lokasi untuk merealisasikan gagasan pemindahan Ibu Kota RI tersebut merupakan embrio pemikiran yang masih perlu didiskusikan secara mendalam. Tentunya masih banyak alternatif lain untuk pemindahan ibu kota negara, mengingat jumlah pulau di Indonesia lebih dari 17.000. Untuk pemilihan lokasi ibu kota perlu peraturan perundang-undangan. Undang-undang tata ruang saat ini sedang digodog di DPR, mudah-mudahan persyaratan ibu kota negara tidak terlewatkan atau terabaikan.
Disusul kembali oleh mediaindonesia.com, berikut paparannya :
Pengamat politik Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, Prof Rubijanto Misman mengatakan Kota Purwokerto layak
menjadi Ibu Kota Negara Indonesia pengganti Jakarta.
“Jika dilihat dari atmosfer politik, sosiologi, dan ekonominya, Purwokerto (ibu kota Kabupaten Banyumas) memang memenuhi kelayakan untuk menjadi Ibu Kota negara,” kata Rubijanto di Purwokerto, Jumat (31/12). Akan tetapi dari sisi geografis, kata dia, Purwokerto memiliki kelemahan karena sulit untuk dijangkau.
Menurut dia, sebuah ibu kota negara harus dilihat dari kemudahan aksesnya dan yang paling utama sekali adalah keberadaan bandar udara. Dia mengakui, di Kabupaten Cilacap telah terdapat bandar udara yang melayani penerbangan komersial (Bandara Tunggul Wulung).
“Permasalahannya Cilacap dan Banyumas beda kabupaten. Apalagi sekarang ini era otonomi, pasti ada semacam katakanlah kurang bersahabat,” katanya.
Menurut dia, sebuah bakal lokasi ibu kota negara juga harus dilihat dari luas daerahnya tetapi bukan berarti luasnya harus sama dengan kota-kota besar lainnya. Dalam hal ini, dia mencontohkan ibu kota negara Australia, yakni Canberra, yang tidak sebesar Sidney dan Melbourne.
“Tetapi kan akses komunikasi dan transportasi kota itu lebih mudah sehingga ada kemungkinan dapat dikembangkan. Untuk Banyumas, saya melihat dari sisi geografisnya tidak memungkinkan, dalam arti untuk menjangkau daerah ini,” katanya.
Bupati Banyumas Mardjoko mengaku pernah ditanya seorang pejabat di pusat mengenai kesiapan Purwokerto untuk dijadikan Ibu Kota. Menurut dia, masuknya Purwokerto sebagai salah satu nominator pengganti Jakarta karena dipandang dari sisi geografis terletak di tengah
Pulau Jawa.
Bahkan, kata dia, Purwokerto menjadi nominator kelima dari 10 alternatif kota lain, seperti Palangkaraya, Samarinda, Pontianak, dan Banjarmasin.
tak ketinggalan pula republika.co.id pun menggelontarkannya pula ke media, langsung simak aja yakkk.. :)
Pengamat politik Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Prof Rubijanto Misman mengatakan Kota Purwokerto layak menjadi Ibu Kota Negara Indonesia pengganti Jakarta.
“Jika dilihat dari atmosfer politik, sosiologi, dan ekonominya, Purwokerto  memang memenuhi kelayakan untuk menjadi ibu kota negara,” kata Rubijanto, di Purwokerto, Jumat.
Akan tetapi dari sisi geografis atau kemudahan untuk menjangkau, kata dia, Purwokerto memiliki kelemahan karena sulit untuk dijangkau.
Menurut dia, sebuah ibu kota negara harus dilihat dari kemudahan-kemudahan aksesnya dan yang paling utama sekali adalah keberadaan bandar udara.
Dia mengakui, di Kabupaten Cilacap telah terdapat bandar udara yang melayani penerbangan komersial (Bandara Tunggul Wulung, red). “Permasalahannya Cilacap dan Banyumas beda kabupaten. Apalagi sekarang ini era otonomi, pasti ada semacam katakanlah kurang bersahabat,” katanya.
Menurut dia, sebuah bakal lokasi ibu kota negara juga harus dilihat dari luas daerahnya tetapi bukan berarti luasnya harus sama dengan kota-kota besar lainnya. Dalam hal ini, dia mencontohkan ibu kota negara Australia, yakni Canberra yang tidak sebesar Sidney dan Melbourne.
“Tetapi kan kota itu akses komunikasi dan transportasinya lebih mudah sehingga ada kemungkinan dapat dikembangkan. Sedangkan untuk Banyumas sendiri, saya melihat dari sisi geografisnya tidak memungkinkan, dalam arti untuk menjangkau daerah ini,” katanya.
Terkait munculnya nama sejumlah daerah yang diusulkan menjadi ibu kota negara, dia mengatakan, calon ibu kota negara yang ideal adalah wilayah tersebut dapat dikembangkan tanpa mengganggu komunitas masyarakat yang ada. Menurut dia, Palangkaraya merupakan kota yang paling ideal sebagai calon ibu kota negara karena dapat dikembangkan untuk kurun waktu 50 hingga 100 tahun ke depan.
Nama Purwokerto sebagai salah satu calon Ibu Kota Negara Indonesia mulai banyak dibicarakan masyarakat Banyumas sejak adanya pemberitaan di sebuah surat kabar harian lokal. Dalam pemberitaan tersebut, Bupati Banyumas Mardjoko mengaku jika pernah ditanya seorang pejabat di pusat mengenai kesiapan jika memang Purwokerto benar nantinya akan dijadikan ibu kota.
Menurut dia, masuknya Purwokerto sebagai salah satu nominator pengganti Jakarta karena dipandang dari sisi geografis terletak di tengah Pulau Jawa. Bahkan, kata dia, Purwokerto menjadi nominator kelima dari 10 alternatif kota lain, seperti Palangkaraya, Samarinda, Pontianak, dan Banjarmasin.
Ini yang terbaru dari media yang tertanggal 21 januari 2013 (tertanggal update blog ini)
Wacana pemindahan Ibu Kota kembali ramai diperbincangkan setelah Jakarta memasuki tanggap darurat banjir. Ternyata wacana ini sendiri sudah digodok selama beberapa tahun ini oleh pemerintah.
Sejak dilontarkan pada 2 Desember 2009 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah meminta kajian tentang wacana ini.
“Menyikapi pernyataan Presiden, diskusi-diskusi dan kajian telah dilakukan beberapa Kementerian,” kata Velix Wanggai, Staf Khusus Presiden bidang Pembangunan Daerah, Sabtu (19/1).
Diberitakan Tempo.co, Velix menjelaskan perihal diskusi wacana perpindahan ibu kota dilontarkan sejak 2 Desember 2009 lalu di Palangkaraya pada acara pembukaan Rapat kerja Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI).
Kemudian ditegaskan kembali beberapa kali pada Buka Bersama dengan pimpinan media massa pada 9 Agustus 2010, dan di acara Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) pada awal September 2010.
Sejak saat itu, ujar Velix, sudah banyak kajian intensif dan diskusi kebijakan strategis dengan wakil-wakil dari Kementeri Pekerjaan Umum, Kementerian Perhubungan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Lingkungan Hidup untuk menggodok kemungkinan pemindahan ibu kota.
“Juga berdialog dengan tim visi 2033 yang diketuai oleh Andrinof Chaniago dan sejumlah pengamat pembangunan perkotaan dan wilayah,” kata Velix.
Sementara itu, Tim Pendamping Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) Jawa Tengah Syamsul Maarif menyatakan Pemerintah Kabupaten Banyumas sudah mengajukan rencana tata ruang dan tata wilayah ke Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah Provinsi Jawa Tengah.
Dalam draf peraturan daerah tentang rencana tata ruang dan tata wilayah itu sudah dimunculkan Purwokerto untuk menjadi ibu kota negara Indonesia. “Dalam draf perda rencana tata ruang dan tata wilayah sudah diarahkan Purwokerto menjadi ibu kota negara,” ujar Syamsul seperti dikutip Tempo.co, (26/12) tahun 2010 silam.
Pengajar Planologi Universitas Diponegoro Semarang menilai Purwokerto sangat layak untuk menjadi ibu kota negara menggantikan ibu kota saat ini, DKI Jakarta, yang dinilai sudah tak layak.
Letak Purwokerto cukup strategis karena berada di tengah Pulau Jawa. Selain itu, memenuhi falsafah kota di Jawa yang membelakangi gunung dan menghadap ke laut di Cilacap. Kota di lereng Gunung Slamet ini dinilai cocok menggantikan Jakarta karena letak geografi yang strategis.
Syamsul menyatakan, masuknya Purwokerto dalam nominasi lima besar calon pengganti ibu kota negara bukanlah sesuatu yang tiba-tiba tapi sudah melalui kajian matang. Purwokerto masuk nominasi lima besar menjadi calon ibu kota bersama Palangkaraya, Samarinda, Banjarmasin, dan Pontianak.
Jika selama ini ada yang mengkhawatirkan keberadaan Gunung Slamet bisa mengganggu, maka Syamsul tidak mempermasalahkan. Sebab, keberadaan gunung di Jawa Tengah itu merupakan variabel yang kesekian sehingga tak perlu dikhawatirkan. Selama ini, Purwokerto dinilai paling lengkap.
Secara historis, pada zaman Belanda juga sudah menetapkan Purwokerto menjadi daerah kerasidenan yang representatif. Selain itu, Purwokerto juga dekat dengan Yogyakarta yang secara historis dikenal memiliki banyak peninggalan pusat-pusat perdagangan dan kekuasaan.
Selama ini, Purwokerto menjadi kota ketiga terbesar di Jawa Tengah setelah Kota Semarang dan Kota Solo. Syamsul menyarankan jika Purwokerto benar-benar ingin menjadi ibu kota negara maka harus punya daya saing yang dikembangkan.
“Tidak hanya pusat kegiatan di wilayah tapi harus bisa memiliki pusat kegiatan tingkat nasional,” ujarnya.
Nah menurut teman-teman sendiri apa pendapatnya terkait Purwokerto sebagai Ibu Kota Negara Republik Indonesia ini?? khususnya Warga Cilacap yang mempunyai Bandara Tunggul Wulung Cilacap Serta Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap.
pelabuhan tanjung intan cilacapbandara tunggul wulung cilacap
Notes : #PrayForGunungSlamet
sedikit video2 tentang Gunung Slamet sebagai pengingat kita, agar kita lebih mencintai bumi pertiwi dengan hal hal yang lebih positif lagi. aaamiin

Minggu, 26 Oktober 2014

Gubug Makan Mang Engking Purwokerto

Gubug Makan Mang Engking Purwokerto, kelezatan di tengah keasrian alam


Mang Engking Purwokerto - foto puh BNC
Mang Engking Purwokerto – foto puh BNC
Satu lagi tempat kuliner berkelas hadir di Purwokerto. Gubug Makan Mang Engking yang berlokasi di Jalan HR Bunyamin Purwokerto, Kabupaten Banyumas, di utara kampus Unsoed, masuk gang sebelah utara Pabuaran Mart. Gubug Makan Meng Engking Purwokerto sudah dibuka sejak 11 Desember 2011 lalu, dengan menu dan suasana yang mengikuti ‘style’ Mang Engking yang sudah buka di berbagai kota. Mang Engking menawarkan kelezatan menu masakan di tengah keasrian alam pedesaan yang khas.
Menu andalan rumah makan dengan suasana alam pedesaan ini adalah udang yang dimasak dengan bumbu variatif. Yang menjadi favorit adaah ‘udang bakar madu’, dengan varian udang yang dimasak adalah udang galah. Olesan madu dalam menu ini menggantikan olesan kecap manis, setelah udang galah dibakar. So, rasanya jadi manis bercampur daging udang yang gurih. Senasi rasa ini dijamin menggoyang lidah Anda. Ckkk… air liur jadi ingin segera merasakan nikmat udang madu ini.
Tentunya ada banyak lagi variasi menu masakan udang. Selain udang bakar madu, ada udang saus padang, saus tiram, asam manis, udang digoreng biasa, udang goreng tepung dan udang rebus. Bagi yang kurang suka dengan udang tersedia pula menu ikan gurame, seperti gurame bumbu cobek dari rempah-rempah, sop gurame, asam manis, saus tiram, bakar kecap, bakar madu dan saus padang. Juga ada menu kepiting dan cumi-cumi dengan berbagai variasi tergantung rasa yang Anda inginkan.
menu Mang Engking hmmm
Bagi penyuka pedas, di rumah makan yang buka setiap hari ini juga disajikan sambal terasi dadakan, tomat, cobek, bawang dan kecap.
Setting tempat yang berada di pinggir sawah dengan angin semilir merambah pori-pori kulit, dipadu pemandangan pepohonan kelapa dengan nyiur yang melambai-lambai, dan gemercik air terkoyak gerakan-gerakan ikan yang ada di kolam menjadikan suasana di rumah makan Mang Enking berbeda dengan tempat makan lainnya. Ada gazebo-gazebo yang bisa Anda pilih untuk lesehan, atau bagi Anda yang tidak suka lesehan, bisa mengambil gazebo yang menggunakan meja/kursi. Beberapa tempat makan berada di atas kolam, sehingga sambil menunggu menu pesanan datang, Anda dapat bercengkerama dengan ikan-ikan dan memberinya makan ikan-ikan di situ.
Untuk tamu rombongan disediakan tempat makan di hall utama tepat setelah pintu masuk Gubung Makan Mang Engking.
andd bisa makan di sini
Ketika BNC menyambangi gubug makan ini, tampak terlihat rombongan baik rombongan keluarga maupun rombongan karyawan dari berbagai intstansi. Atik, salah seorang pengunjung yang datang bersama rekan-rakannya dari salah satu bank swasta mengatakan Gubung Mang Engking menjadi alternative makan siang bersama yang bisa menghilangkan kepenatan. “Setalah acara meeting di kantor yang melelahkan, makan di tempat yang asri dan segar ini bisa menghilangkan kepenatan”, katanya.
Tentang Mang Engking
Awal berdirinya Gubug Makan Mang Engking boleh dibilang adalah ‘berkah bom Bali’. Lho? Ceritanya Mang Engking Sodikin sang pemilik rumah makan asal Tasikmalaya menambak udang sejak tahun 1990-an di Jogja, yaitu di Minggir, Sleman. Hasil tambak udang dikirim ke restoran-restoran di Bali.
Nah pada tahun 2002 terjadi bom Bali dan berdampak pada terhambatnya pengiriman hasil tambak udang Mang Engking. Daripada tidak ada pembuangan udang, Mang Engking berfikir lebih baik membangun restoran dan dijual sendiri. Maka berdirilah Gubug Makan Mang Engking pertama kali pada tahun 2004 berlokasi di desa Jamur, Sendangrejo, Minggir, Sleman. Rumah makan ini agak jauh dari pusat kota Jogja dan berada di tengah areal persawahan. Kemudian berdiri pada tahun 2006 di Sorogan Castle, Jalan Sorogan Bantul.
Karena peminatnya banyak, Mang Engking lantas menambahkan menu lain selain menu udang. Kini Mang Engking sudah berdiri di berbagai kota seperti Depok, Bandung, Pasuruan, dan di kota Anda : Purwokerto. (BNC/puh/jakartabisnis.com)

Kuliner Purwokerto

Makanan khas dari kota ini adalah
Mendoan khas Purwokerto
  • Mendhoan, makanan yang terbuat dari tempe yang tipis/diiris tipis kemudian digoreng dengan tepung yang diberi bumbu dan digoreng setengah matang.
  • Kripik Tempe, prosesnya seperti mendhoan tetapi digoreng sampai kering. Kota Kripik merupakan salah satu julukan dari kota Purwokerto.
  • Sroto, daerah lain menyebutnya Soto.
  • Gethuk Goreng, sentra pembuatannya adalah Kec.Sokaraja, sebuah kota kecamatan di pinggir kota Purwokerto.
  • Keong Kuah Pedas, dengan bahan utama keong sawah yang dimasak berkuah dengan bumbu-bumbu kuat yang memberi nuansa pedas dan segar hingga ke tenggorokan. Biasa disebut juga dengan "kraca".
  • Dage, kudapan mirip kue yang berbahan dasar ampas kacang yang digumpalkan dan dijamurkan. Biasa disajikan berupa goreng tepung berbumbu dan disantap dengan cabe rawit atau "lombok cengis".
  • Semayi, lauk dari ampas kelapa yang dibumbui dan dipanggang di atas api kecil. Makanan yang menjadi simbol hidup melarat ini kini sudah amat-sangat susah ditemukan.
  • Tegean, adalah sebutan khas Banyumas untuk sup sayur berkuah bening yang tampak sangat sederhana namun sangat menyegarkan. Sayur-mayur berupa bayam, kecambah kedelai hitam, daun katuk, dan kedelai hitam butiran lazim menjadi unsur utama masakan ini. Untuk bumbunya, selain bahan-bahan yang lazim seperti bawang merah dan bawang putih, tegean juga bercirikan dengan "geprekan" kencur yang sangat menyegarkan.
  • Empal basah, berupa masakan berbahan dasar daging dan tetelan sapi yang dimasak dengan kuah santan yang kental. Kekhasan empal basah Banyumasan adalah adanya sensasi gatal dan geli yang ditimbulkan oleh campuran srundeng di dalam kuah kental tersebut. Empal basah sangat cocok dimakan dengan ketupat berkulit janur (jangan ketupat berkulit plastik).
  • Themlek, kudapan ringan dari ampas tahu berbumbu yang digoreng dengan adonan tepung. Makanan yang akan meninggalkan rasa seret di tenggorokan ini sudah semakin jarang ditemui.
  • Nopia.
  • Beberapa jenis makanan tradisional yang dikenal yakni: ranjem, mi thayel, timus, klanthing, sempora (awug-awug), utri, puli (ciwel), ongol-ongol, gebral, kluban, grontol, mireng, kamir, moho, golang-galing, lopis, ondol-ondol, widaran, angleng klapa, angleng kacang, rujak mentah, rujak mateng, ampyang, grebi, dampleng (mirip combro). soto

Perguruan Tinggi Purwokerto

UNSUD
Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto (UNSOED) Salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia yang berada di kota Purwokerto
Sebuah kewajaran jika Purwokerto menyandang predikat sebagai kota Pelajar karena memang Purwokerto merupakan kota yang sangat strategis untuk menimba ilmu selain letak geografisnya yang mudah dijangkau dari berbagai kota khususnya di pulau jawa, biaya hidup relatif lebih murah jika dibandingkan dengan biaya hidup di kota-kota besar lainnya di Indonesia, selain itu juga Purwokerto memang kondusif tergolong untuk belajar jadi tidak heran kalau setiap tahunnya dibanjiri Mahasiswa-mahasiswa pendatang yang datang dari seluruh pelosok Nusantara. Adapun perguraun tinggi di baik negeri maupun swasta diantaranya:
Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Sekolah Tinggi Teknologi Telematika Telkom, Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Negeri (STAIN), Sekolah Tinggi Teknik Wiworotomo Purwokerto, Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Jawa Tengah, Universitas Terbuka Tutorial Purwokerto (UTTP), Politeknik Ma'arif Purwokerto, Politeknik Kesehatan DEPKES Semarang - Kampus Purwokerto, Universitas Wijayakusuma (Unwiku), STIMIK AMIKOM Purwokerto, Sekolah Tinggi Ilu Kesehatan Bina Cipta Husada, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Harapan Bangsa, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Satria, Politeknik Pratama, Akademi Manajemen Rumah Sakit Kusuma Husada, Akademi Kebidanan YLPP Karang Klesem, Akademi Pariwisata Eka Sakti, Akademi Keperawatan Yakpermas, AMIK Bina Sarana Informatika Purwokerto, Akademi Farmasi Kusuma Husada,Politeknik Ma'arif NU Purwokerto Akademi Kebidanan Perwira Husada.

Pariwisata Purwokerto

Baturaden
Owabong
Curug Cipendok
Pancuran 7
Purwokerto memiliki beberapa tempat wisata alam andalan yang berskala nasional, berupa gua, air terjun dan wana wisata. Wisata alam di Purwokerto antara lain : Baturaden, Pancuran Pitu, Pancuran Telu, Gua SaraBadak, Museum BRI, Curug Gede, Curug Ceheng, Curug Belot, Curug Cipendok, Masjid Saka Tunggal, Bumi Perkemahan Baturraden, Bumi Perkemahan Kendalisada, Telaga Sunyi, Mata Air Panas Kalibacin, Bendung Gerak Serayu, Wahana Wisata Lembah Combong, Combong Valley Paint Ball and War Games, Serayu River Voyage, Baturraden Adventure Forest[5]

Bahasa dan Budaya Purwokerto

Musik Kenthongan dalam variasi Aksinya
Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa dengan dialek Banyumasan atau lebih familiar dengan istilah Ngapak. Bahasa ini merupakan bahasa kebanggaan yang patut untuk dilestarikan dan dihargai. Dialek dan budaya masyarakatnya memperkaya keanekaragaman Indonesia. Wikipedia juga turut melestarikan bahasa banyumasan ini dengan menerbitkan Wikipedia bahasa Banyumasan. Kenthongan atau musik thek-thek adalah seni musik yang dimainkan dengan alat musik bambu yang dimainkan oleh 20-40 orang. Kebudayaan Begalan dan Ronggeng adalah kesenian asli Banyumas yang sekarang sudah mulai pudar keberadaaannya.

Ekonomi Purwokerto


Salah satu jalan utama di Purwokerto.
Salah satu pertokoan di kota Purwokerto.
Secara tradisional, Purwokerto bukan merupakan kota industri maupun perdagangan. Sampai saat ini, aktivitas industri amat jarang ditemukan di Purwokerto, padahal Purwokerto merupakan daerah potensial yang sangat strategis untuk melakukan investasi dalam bidang Industri selain dari lahan yang masih luas, akses menuju kota-kota besar lainnya yang mudah, juga tenaga kerja profesional di Purwokerto masih banyak. Kota ini bisa dikatakan tidak memiliki industri dalam skala besar yang dapat menyerap ribuan tenaga kerja atau mencakup wilayah puluhan hektare. Jika pun ada industri, itu umumnya industri-industri tradisional yang hanya mempekerjakan puluhan pekerja (seperti industri rokok rumahan, industri mie atau soun kering kecil-kecilan, pabrik pengolah susu skala kecil, industri peralatan dari logam yang tidak seberapa, serta industri makanan oleh-oleh yang hanya ramai pada musim Lebaran). Sektor perdagangan pun setali tiga uang. Di kota ini tidak ditemukan aktivitas perdagangan dalam skala besar. Kota ini tidak memiliki pelabuhan atau fasilitas bongkar-muat barang dalam skala yang secara ekonomi signifikan. Juga tidak terdapat areal pergudangan yang dapat menyimpan komoditas dalam jumlah ribuan kubik. Pendek kata, kota ini sama sekali bukan kota industri dan perdagangan.
Sampai dengan awal dekade 2000-an, kota ini lebih cocok disebut sebagai kota pegawai dan anak sekolah. Mata pencaharian penduduk yang bisa diandalkan untuk hidup cukup adalah dengan menjadi pegawai negeri maupun BUMN. Akhirnya, kota ini secara ekonomi saat itu tidak terlalu berkembang.
Perubahan secara cukup signifikan terjadi mulai tahun-tahun 2000-an, yakni saat kota ini mulai dibanjiri mahasiswa-mahasiswa dari berbagai kota di pulau Jawa untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi di sini (terutama di Universitas Jenderal Soedirman dan di Universitas Muhammadiyah Purwokerto UMP). Sejak saat itu, aktivitas ekonomi rakyat yang berkenaan dengan kebutuhan mahasiswa pun menggeliat. Ribuan kamar kos dibangun untuk disewakan kepada para mahasiswa pendatang. Ratusan tempat makan didirikan untuk melayani kebutuhan lambung para mahasasiswa yang menjalani siklus lapar setiap 6 jam. Kios-kios alat tulis bermunculan. Warnet tumbuh bagai cendawan di musim semi. Bahkan, jasa pencucian baju (laundry) pun bermunculan guna memenuhi kebutuhan pembersihan pakaian para mahasiswa yang memiliki sedikit waktu untuk mencuci sendiri. Kondisi ini membuat perekonomian kota Purwokerto tumbuh cukup signifikan sebagai kota jasa.
Di Akhir tahun 2011, telah berdiri Hotel bintang 5 Aston dengan 12 Lantai. Pada pertengahan tahun 2012, telah tampak perubahan yang cukup signifikan dalam bidang perdagangan. Bisa dilihat dari dibangunnya Rita Supermall dengan 16 lantai dan 2 basement tepat di selatan alun-alun Purwokerto. Dan juga pemekaran Moro menjadi Mega Mall dengan tiga tower.

Sejarah Purwokerto

Gadis Belanda di Purwokerto (1923-1925)
Awal-awal abad XX. Pada suatu kota. Saat itu, babak baru dalam tata ruang tengah memasuki kota tersebut. Setiap jalan terlihat lebar. Pepohonan hijau nan rindang meneduhi para pejalan kaki ketika melintas di area pedestrian. Jalan-jalan terlihat asri. Sulit untuk membedakan antara jalan utama dengan jalan penghubung. Di depan gedung karesidenan, terdapat sebuah taman kota. Taman Merdeka, nama taman itu. Sebuah taman untuk tempat warga kota melepas penat setelah kesibukan. Kota terasa nyaman bagi warganya. Inilah suasana Kota Purwokerto dengan perencanaan tata ruang yang baru. Suatu masa ketika Pulau Jawa mulai berkembang. Saat itu, kota-kota di Pulau Jawa tengah mengalami lonjakan penduduk. Kota-kota meledak. Hampir di setiap kota, pertambahan penduduk sekitar 10 kali sampai 20 kali lipat. Kota-kota, mengalami masalah akut tentang tata ruang. Pemerintah kolonial Belanda kelimpungan menghadapi persoalan itu. Sibuk mencari model pembangunan bagi kota-kota di Jawa.
Saat kesibukan meliputi Pemerintah Kolonial Belanda, Herman Thomas Kartsen menjejakkan kaki di Semarang pada 1914. Kota yang juga tengah mengalami persoalan pertambahan penduduk. Dalam catatan W.F. Wertheim melalui buku Masyarakat Indonesia dalam Transisi, pertambahan penduduk di kota itu hampir mencapai seratus persen. Di kota tersebut, Kartsen menemui Henri Maclaine Pont. Pont adalah teman Kartsen semasa kuliah di Insitut Teknologi Delf, Amsterdam, Belanda. Di Semarang, Pont mendirikan biro arsistek. Melalui Pont, Kartsen mendapat banyak informasi tentang keadaan Semarang dan kota lainnya. Kedatangan Kartsen di Semarang adalah guna merancang Kota Semarang dan kota-kota di Pulau Jawa.terdapat pabrik gula kalibagor.[4]

Kota Purwokerto

Lokawisata Baturaden, ikon pariwisata Purwokerto
Kota Purwokerto adalah ibu kota Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia. Jumlah penduduknya 249.705 jiwa pada tahun 2005. [1]. Berbagai julukan di sandang kota di jalur selatan Jawa Tengah ini dari Kota Wisata, Kota Kripik, Kota Transit, Kota Pendidikan sampai kota Pensiunan karena begitu banyaknya pejabat-pejabat negara yang pensiun dan akhirnya menetap di kota ini. Di kota ini pula terdapat museum Bank Rakyat Indonesia, karena bank pertama kali berdiri ada disini dan pendiri bank ini adalah Raden Bei Aria Wirjaatmadja putra daerah Purwokerto.

Pemerintahan


Kota Purwokerto
Jalan Jenderal Sudirman, Purwokerto
Purwokerto adalah sebuah kota yang tak otonom karena masih menjadi bagian Kabupaten Banyumas sebagai pusat pemerintahan. Secara administratif, Purwokerto terbagi menjadi 4 kecamatan dengan 27 kelurahan. Sebenarnya ada wacana pembentukan Kota Purwokerto terlepas dari Kabupaten Banyumas terus bergulir. Kalau dilihat dari sejarahnya, Purwokerto asalnya berstatus Kota Administratif (Kotif), di mana Kotif lainnya di Indonesia sudah menyandang status Kota dengan otonomi tersendiri. Kalau Purwokerto berhasil menjadi Kota, minimal ada 4 Kecamatan yang tergabung[2], seperti yang terlihat di tabel berikut ini;
Kecamatan di Kota Purwokerto'[3]
Nama Kecamatan Ibu kota Kecamatan Jumlah Kelurahan Penduduk Tahun 2010
Purwokerto Barat Rejasari 7 49.044
Purwokerto Timur Purwokerto Wetan 6 57.160
Purwokerto Utara Bancarkembar 7 57.178
Purwokerto Selatan Karangklesem 7 70.459

Geografi

Purwokerto terletak di selatan Gunung Slamet, salah satu gunung berapi yang masih aktif di pulau Jawa, secara geografi Purwokerto terletak di koordinat 7°26′LU 109°14′BT. Selain menjadi pusat pemerintahan karena menjadi pusat koordinasi daerah Jawa Tengah bagian Barat Bakorlin III. berbatasan sokaraja terdapat Kali Pelus.